Mulailah
kami bergegas ke dalam medan tempur kami. Tetapi pada saat kami hendak memasuki
medan tersebut, kami dihalangi oleh PKD setempat. kalo kata temen yaitu Dandy,
kepanjangan PKD adalah Polisi Kurang Dana.
Beliau berkata,” Permisi adek-adek”. Kami pun menjawab,” iya ? mas mas?”,”Ade
ade darimana ya? Mau ngapain ?”.”jadi begini mas-mas, kami dari s*** 2* ingin
mengadakan suatu acara, nah di sini ceritanya kami mau ngamen untuk
penggalangan dana tersebut”. Mas mas pun menjawab.” Maaf dek bukan maksud
mas-mas jahat, tetapi
di monas ini tidak diperbolehkan untuk mengamen”.”Memangnya kenapa ya? Kok tidak diperbolehkan? Kami kan niatnya baik?”.”Jadi begini dek, menurut yang sudah-sudah yang namanya pengamen seperti adek itu udah banyak, sama sama memakai almameter sendiri dan atribut lainnya. Mereka juga menggalang dana dengan cara seperti ini. Kalian lihat? Gitar yang ada disana? Tetapi ada salah satu dari mereka yang terpaksa kami tangkap Karena dia berbohong. Dia hanya mengaku-ngaku saja. Waktu itu kami sempat menyita alat tempurnya. Kami mengancam jikalau anda benar-benar dari institute itu, tolong berikan buktinya. Kami akan mengembalikan gitar anda. Ternyata dia mengaku berbohong. Ya apa boleh buat gitarnya kami sita. Meskipun dia ingin menukar dengan apapun, kami tidak akan menukarnya.
di monas ini tidak diperbolehkan untuk mengamen”.”Memangnya kenapa ya? Kok tidak diperbolehkan? Kami kan niatnya baik?”.”Jadi begini dek, menurut yang sudah-sudah yang namanya pengamen seperti adek itu udah banyak, sama sama memakai almameter sendiri dan atribut lainnya. Mereka juga menggalang dana dengan cara seperti ini. Kalian lihat? Gitar yang ada disana? Tetapi ada salah satu dari mereka yang terpaksa kami tangkap Karena dia berbohong. Dia hanya mengaku-ngaku saja. Waktu itu kami sempat menyita alat tempurnya. Kami mengancam jikalau anda benar-benar dari institute itu, tolong berikan buktinya. Kami akan mengembalikan gitar anda. Ternyata dia mengaku berbohong. Ya apa boleh buat gitarnya kami sita. Meskipun dia ingin menukar dengan apapun, kami tidak akan menukarnya.
Kami
tetap bersikeras untuk mengatakan kami tidak berbohong, tetapi sang mas-mas
tersebut hanya berkata,”jikalau anda benar dari s*** 2*, dan ingin menggalang
dana untuk acara tersebut? Mana buktinya? Dan untuk mendapatjan izin mengamen
disini kalian harus ke kantor pusat, tetapi saya tidak yakin bahwa kalian akan
diizinkan, karena sudah banyak yang ditolak. Mengapa kami tolak? Bukannya kami
ingin menghalangi kalian untuk berniat baik. Kalian boleh mengamen di luar
monas, tetapi jangan di dalam monas ini. Karena jika kami mengizinkan kalian
untuk mengamen disini, pengamen lain akan bermunculan. Dan seiring berjalannya
waktu mereka akan bertambah banyak dan pasti ada beckingan preman-preman. Dan
pada saat itu kami akan kewalahan untuk menanggulanginya dengan jumlah kami
yang sedikit. Seperti yang kalian lihat di depan? Kotornya bukan main kan? Kami
tidak mau kecologan lagi seperti kami membiarkan pedagang yang berjualan bebas
itu. Oleh karena itu kami tidak akan mengizinkannya.
Setelah
kami ingin bergegas kami melihat seorang bapak tua yang bekerja dengan
memulung. Ia hendak memasuki monas juga, sama seperti kami. Tetapi dia
dihalangi mas-mas tadi. Cek-cok terjadi di kedua belah pihak, akhirnya bapak
tua tersebut mengalah. Ia berjalan dengan raut wajah yang kesal dan ngomel-ngomel. “Inilah realita kehidupan”,
Evan berkata.
Apesnya
hari ini ditambah mendengar realita kehidupan seperti ini, memang susah di
dunia ini untuk menjaga ketertiban. Mungkin hanya inilah yang dapat kami
sampaikan,”Semangat ! mas-mas aparat ! terimakasih atas penjelasannya”.
Kami pun
kalah sebelum perang dan bergegas kembali ke halte bus. Halte demi halte kami
lewati. Sampai lah kami di suatu halte. Saat kami hendak turun (sebelum pintu
terbuka), kami melihat naruto sedang menata rambutnya. Baru kali ini gue
melihat seorang ninja bergelar sannin naik bus tak karuan. Alangkah anehnya
kota ini.
Sesampainya
di access, kami pun bingung apakah kami akan cabut atau pergi ke medan perang alternatif.
Terlintaslah taman berkreasi “Taman Suropati”, surganya musik dan surganya…..
yah kalian pasti tahulah. Let’s chau !! hilanglah kami dari permukaan access ini.
Tepat jam
5 lebih, kami sampai di taman suropati. Dengan sedikit malu-malu kami pun
memulai pertempuran dengan alat kami. Alhasil kami mendapatkan sejumlah Rp.150.000,00.-
. Alhamdulillah sambil menghela nafas lega.
Setelah
kami gugur dalam pertempuran kami pun melayang ke alam rawamangun, tempat
apersinggahannya Aisyah. Kami sampai jam 8 lewat. Kami berfikir awalnya kami
akan dibakar oleh ayahnya Aisyah. Untungnya kami tidak dimarahi. Disitu kami
malah disajikan sate ayam nan lezat. Mungkin uang gue tadi telah berbuah
menjadi sate ini. Terimakasih Pak !!
@rachmatadhila
as gue
@enjun1001
as Junior
@Vibes_Key
as Evan
@AisyahFdlyBasri
as Aisyah
@LordDandy as Dandy
0 comments:
Posting Komentar