Sabtu, 12 Juli 2014

Is That True?? You're My True Love !!! Part 1






1.            Pesonanya?? Oh Luar Biasa…
Jakarta, 27 September 2010
Semua berawal dari senin pagi yang masih gelap, saat aku berada di alam mimpi yang penuh dengan keindahan tanpa memikirkan masalah duniawi. Kumerasa terbang tinggi di angkasa yang dipenuhi jutaan bintang bersama senyum indah sang wanita pujaanku. Ku berusaha terus meraihnya dari belakang. Namun semakin ku meraihnya, semakin aku menjauh darinya seakan-akan terhisap oleh “Black Hole”.
Aku berteriak,“Tunggu Akuuu!!”. Tiba-tiba aku mendengar suara alarm hapeku yang memecahkan keheningan pagi. Akupun mulai terbangun meski berat meninggalkan hangatnya pelukan selimutku yang lembut.
Kususuri langkah demi langkah menuju kamar mandi. Sejuknya pagi membasahi tubuhku dengan senandung kecil yang kunyanyikan. Selesai mandi, kulihat bidadari yang telah membuatku ada di dunia ini dengan senyuman sedang berdiri seorang diri di dapur. Ibuku selalu menyiapkan susu untukku sebelum aku berangkat ke sekolah walaupun aku sering lupa untuk meminumnya.
Tasku yang berwarna orange terang dilapisi motif hitam telah kuambil dari kamarku. Setelah merapihkan semua yang kubutuhkan di sekolah nanti. Kumulai beranjak ke sekolah menggunakan sepeda kecil pembelian orang tua ku. Seperti biasanya, aku lupa menyampaikan salam-pamitku kepada orang tua ku karena terlalu terburu-buru.
Kayuhan sepedaku memang tidak secepat kilat. Namun untuk beberapa hari ini aku selalu tiba lebih awal di sekolahku. Aku bersekolah di SMP Negeri 52 yang berada di tengah komplek sepi namun ramai dengan gong-gongan makhluk peliharaan warga sekitar. Mengapa aku datang pagi-pagi saat yang lain masih sibuk menyiapkan dirinya masing-masing? Hanya satu tujuanku, berharap agar aku bisa mengawali hari dengan senyumannya.
Namaku adalah Radil Arham Hataguna, biasa dipanggil gayus oleh sahabatku di kelas. Bukan karena parasku yang menyerupai Pak Gayus, tetapi karena suatu tragedi di warnet. Saat itu, aku mendapat tugas membuat cliping tentang Sea Games berkelompok. Akulah yang mengumpulkan uang patungan teman-temanku untuk membayar biaya print makalah tersebut. Karena saat mengerjakan makalah, hanya akulah yang bekerja. Jadi wajar dong aku membayar lebih ringan daripada mereka? Setelah teman-temanku mengetahuinya, mereka protes dan menganggap aku adalah “The Next Gayus”. Aku hanya diam sambil tertawa dalam hati.
Tiba di kelas dengan raut muka yang sedikit kecewa. Terulang lagi kejadian yang sebenarnya sudah kuketahui. Dia belum datang. Harapku menunggunya untuk segera hadir di hadapanku. Kumenunggu sambil tersenyum membayangkan keindahan Mahakarya sang Pencipta.
Lagu pembuka tanda pelajaran segera dimulai telah berbunyi. aku pun terbangun dari lamunan konyolku yang hanyut ke alam mimpi. Kulihat di sebelah pojok kiri belakang kelas telah hadir dirinya. Canda tawanya sangatlah lucu dan mungil saat bersama sahabatnya. Namanya adalah Mutiara Dinda Angkasaputri. Ia adalah gadis berjilbab yang cantik dan masih penuh dengan misteri. Meski kuterus berusaha mencari semua tentangnya. Dan yang kudapat hanyalah kesedihan yang mendalam. Ia sudah mempunyai kekasih hatinya.


Pagi ini dimulai dengan pelajaran “Matematika”. Ini adalah pelajaran favoritku. Pada saat kegiatan KBM berlangsung, suasana menjadi tenang yang sebelumnya seperti pasar tradisional yang ramai oleh sahut-sahutan penjual. Aku pun bersemangat mengerjakan soal-soal yang diberikan.
30 menit pun berlalu begitu cepat saat semuanya serius dengan bukunya masing-masing. Terlihat guruku sedang mengantuk yang bergaya ala rockers (menganguk-ngangguk). Akhirnya Beliau terbangun karena cekikikan teman-temanku yang menahan ketawa melihat wajah beliau saat tidur.
“Ho..ahh..Siapa yang sudah selesai?” Tanya Pak Yoyo sambil menguap.
Aku pun segera mengacungkan jariku untuk bisa maju ke depan agar dia melihatku dari kejauhan, walaupun aku gugup saat ia memandangiku. Saat aku beranjak dan melangkah maju, semua mata tertuju padaku seakan-akan aku adalah “Man of the year” di majalah terkenal. Tetapi hanya dialah yang terlihat fokus menghadap jendela dunianya.
Aku tetap melangkah maju dengan badan seperti generator yang sedang menyala. Kuambil spidol hitam yang siap kupakai yang berada di meja Pak Yoyo.
“Radil.. Kamu kerjakan nomor 21,” kata guruku yang hampir memecahkan jantungku.
” I..iya Pak, saya kerjakan dimana pak?”.
“Di jidatmu ! Ya di papan tulislah. Sebelah sana….” Sambil menunjuk ke arah pojok kiri papan tulis. “Tunggu apa lagi? Segera kerjakan !”
Kumulai mengayunkan spidol di depan kelas dengan gugup gemetar. “Akankah ku berani menatapnya saat dia menatapku? walaupun aku berharap dia bisa tersenyum melihatku”, gumamku dalam hati.
Saat aku sudah selesai, aku mulai memberanikan diriku untuk membalikkan badan dan berusaha meliriknya. aku menatapnya dan kulihat dia juga sedang menatapku. Senang, Malu, Takut dan Gugup menjadi satu. “Oh Tuhan ! Benarkah ia seorang manusia? Sungguh sempurna ciptaan-Mu.” Suasana pun mulai berubah saat guru ku berkata.
“Hey, kau Radil, Apa yang kau lakukan disana? Cengar-cengir aja. Sudah yakin benar dengan jawabanmu dil?”
“Hmm.. anu Pak. Eh iya Pak. Saya yakin” sambil menaruh spidol ke tempat semulanya.
Aku segera kembali ke tempatku dengan mata melirik wajahnya.
”Apakah benar pekerjaan temanmu ini?”.
”Salah.. Pak. Masa 2x+3x = 7x?” Sahut Alpian.
 Oh my God!! Apa yang kulakukan? Kenapa bisa sih aku salah di akhir ?!  Masa 2x+3x=7x?  arrgghh !! Aku tau ini konyol karena aku ingin dilihat hebat olehnya tetapi yang kulakukan hanyalah merusak segalanya. Aku hanya terdiam dan menahan malu dengan jantung yang rasanya ingin copot keluar saat menyadari dia menertawaiku.
***
Waktu istirahat telah datang. Kelasku adalah IX-B, kelas yang paling dekat dengan kantin. Geng A.S.I.A pun mulai bergerak menuju medan kantin. Dengan persenjataan uang koin gopean, kami siap melibas otak-otak Bu Ina dengan saus yang tidak tahu terbuat dari cabe seperti apa. Kami pun juga menghajar es milik Pak Lala. Pesta kecil-kecilan pun tak terhindarkan, dengan ratusan anak SMP yang terlihat menikmati makanannya.
A.S.I.A adalah kepanjangan dari Arham, Sugi, Ilham dan Arifani. Jadilah A.S.I.A, geng yang terkenal sebagai kumpulan homo. Walaupun kami semua tahu bahwa homo kami hanyalah bercandaan belaka. Namun kelas kami tetap menganggap kami homo.
Bel sudah berbunyi. Tugas Negara A.S.I.A telah selesai, memberantas kelaparan yang melanda kami. Kini saatnya kami belajar lagi. Aku duduk di tempatku, berlawanan dengan tempat duduknya, yaitu pojok kanan belakang bersama gengku. Aku merasa nyaman duduk bersama mereka walaupun aku bukanlah tipe orang yang mudah bergaul.
Kulihat dirinya dari tempatku, namun aku langsung berpaling dengan wajah merah. sungguh ku malu saat dia menyadari bahwa ku sedang menatapnya. “Oh Tuhan.. Apakah ini yang namanya cinta??”. bergetar rasa di dada membuatku terlihat salah tingkah. Ilham, Sugi, dan Arifani pun menertawaiku.

***


To be continued 
Next Week ...




2 comments:

Unknown mengatakan...

masih newbie, jadi kalo tulisannya kurang bagus harap dimaklumi..

Nur Syafa'ah mengatakan...

Ternyata cowok bisa nge blushing juga yaa wkwk

Posting Komentar

 
;