1. Pesonanya?? Oh Luar Biasa…
Jakarta, 27
September 2010
Semua berawal
dari senin pagi yang masih gelap, saat aku berada di alam mimpi yang penuh
dengan keindahan tanpa memikirkan masalah duniawi. Kumerasa terbang tinggi di angkasa
yang dipenuhi jutaan bintang bersama senyum indah sang wanita pujaanku. Ku
berusaha terus meraihnya dari belakang. Namun semakin ku meraihnya, semakin aku
menjauh darinya seakan-akan terhisap oleh “Black
Hole”.
Aku
berteriak,“Tunggu Akuuu!!”. Tiba-tiba aku mendengar suara alarm hapeku yang memecahkan
keheningan pagi. Akupun mulai terbangun meski berat meninggalkan hangatnya
pelukan selimutku yang lembut.
Kususuri
langkah demi langkah menuju kamar mandi. Sejuknya pagi membasahi tubuhku dengan
senandung kecil yang kunyanyikan. Selesai mandi, kulihat bidadari yang telah
membuatku ada di dunia ini dengan senyuman sedang berdiri seorang diri di
dapur. Ibuku selalu menyiapkan susu untukku sebelum aku berangkat ke sekolah
walaupun aku sering lupa untuk meminumnya.
Tasku yang berwarna
orange terang dilapisi motif hitam telah kuambil dari kamarku. Setelah
merapihkan semua yang kubutuhkan di sekolah nanti. Kumulai beranjak ke sekolah
menggunakan sepeda kecil pembelian orang tua ku. Seperti biasanya, aku lupa
menyampaikan salam-pamitku kepada orang tua ku karena terlalu terburu-buru.
Kayuhan sepedaku
memang tidak secepat kilat. Namun untuk beberapa hari ini aku selalu tiba lebih
awal di sekolahku. Aku bersekolah di SMP Negeri 52 yang berada di tengah
komplek sepi namun ramai dengan gong-gongan
makhluk peliharaan warga sekitar. Mengapa
aku datang pagi-pagi saat yang lain masih sibuk menyiapkan dirinya
masing-masing? Hanya satu tujuanku, berharap agar aku bisa mengawali hari
dengan senyumannya.
Namaku adalah
Radil Arham Hataguna, biasa dipanggil gayus oleh sahabatku di kelas. Bukan
karena parasku yang menyerupai Pak Gayus, tetapi karena suatu tragedi di warnet.
Saat itu, aku mendapat tugas membuat cliping
tentang Sea Games berkelompok. Akulah yang mengumpulkan uang patungan teman-temanku
untuk membayar biaya print makalah
tersebut. Karena saat mengerjakan makalah, hanya akulah yang bekerja. Jadi
wajar dong aku membayar lebih ringan
daripada mereka? Setelah teman-temanku mengetahuinya, mereka protes dan
menganggap aku adalah “The Next Gayus”. Aku hanya diam sambil tertawa dalam
hati.
Tiba di kelas
dengan raut muka yang sedikit kecewa. Terulang lagi kejadian yang sebenarnya
sudah kuketahui. Dia belum datang. Harapku menunggunya untuk segera hadir di
hadapanku. Kumenunggu sambil tersenyum membayangkan keindahan Mahakarya sang
Pencipta.
Lagu pembuka
tanda pelajaran segera dimulai telah berbunyi. aku pun terbangun dari lamunan
konyolku yang hanyut ke alam mimpi. Kulihat di sebelah pojok kiri belakang
kelas telah hadir dirinya. Canda tawanya sangatlah lucu dan mungil saat bersama
sahabatnya. Namanya adalah Mutiara Dinda Angkasaputri. Ia adalah gadis
berjilbab yang cantik dan masih penuh dengan misteri. Meski kuterus berusaha mencari
semua tentangnya. Dan yang kudapat hanyalah kesedihan yang mendalam. Ia sudah
mempunyai kekasih hatinya.
Pagi ini
dimulai dengan pelajaran “Matematika”. Ini adalah pelajaran favoritku. Pada
saat kegiatan KBM berlangsung, suasana menjadi tenang yang sebelumnya seperti
pasar tradisional yang ramai oleh sahut-sahutan penjual. Aku pun bersemangat
mengerjakan soal-soal yang diberikan.
30 menit pun
berlalu begitu cepat saat semuanya serius dengan bukunya masing-masing.
Terlihat guruku sedang mengantuk yang bergaya ala rockers (menganguk-ngangguk).
Akhirnya Beliau terbangun karena cekikikan
teman-temanku yang menahan ketawa melihat wajah beliau saat tidur.
“Ho..ahh..Siapa
yang sudah selesai?” Tanya Pak Yoyo sambil menguap.
Aku pun segera
mengacungkan jariku untuk bisa maju ke depan agar dia melihatku dari kejauhan,
walaupun aku gugup saat ia memandangiku. Saat aku beranjak dan melangkah maju,
semua mata tertuju padaku seakan-akan aku adalah “Man of the year” di majalah
terkenal. Tetapi hanya dialah yang terlihat fokus menghadap jendela dunianya.
Aku tetap
melangkah maju dengan badan seperti generator yang sedang menyala. Kuambil
spidol hitam yang siap kupakai yang berada di meja Pak Yoyo.
“Radil.. Kamu
kerjakan nomor 21,” kata guruku yang hampir memecahkan jantungku.
” I..iya Pak,
saya kerjakan dimana pak?”.
“Di jidatmu !
Ya di papan tulislah. Sebelah sana….” Sambil menunjuk ke arah pojok kiri papan
tulis. “Tunggu apa lagi? Segera kerjakan !”
Kumulai
mengayunkan spidol di depan kelas dengan gugup gemetar. “Akankah ku berani
menatapnya saat dia menatapku? walaupun aku berharap dia bisa tersenyum
melihatku”, gumamku dalam hati.
Saat aku
sudah selesai, aku mulai memberanikan diriku untuk membalikkan badan dan
berusaha meliriknya. aku menatapnya dan kulihat dia juga sedang menatapku. Senang, Malu, Takut dan Gugup menjadi satu. “Oh Tuhan ! Benarkah
ia seorang manusia? Sungguh sempurna ciptaan-Mu.” Suasana pun mulai berubah
saat guru ku berkata.
“Hey, kau
Radil, Apa yang kau lakukan disana? Cengar-cengir
aja. Sudah yakin benar dengan jawabanmu dil?”
“Hmm.. anu
Pak. Eh iya Pak. Saya yakin” sambil menaruh spidol ke tempat semulanya.
Aku segera
kembali ke tempatku dengan mata melirik wajahnya.
”Apakah benar
pekerjaan temanmu ini?”.
”Salah.. Pak.
Masa 2x+3x = 7x?” Sahut Alpian.
Oh my
God!! Apa yang kulakukan? Kenapa bisa sih
aku salah di akhir ?! Masa 2x+3x=7x? arrgghh !! Aku tau ini konyol karena aku ingin
dilihat hebat olehnya tetapi yang kulakukan hanyalah merusak segalanya. Aku
hanya terdiam dan menahan malu dengan jantung yang rasanya ingin copot keluar saat menyadari dia menertawaiku.
***
Waktu
istirahat telah datang. Kelasku adalah IX-B, kelas yang paling dekat dengan
kantin. Geng A.S.I.A pun mulai bergerak menuju medan kantin. Dengan
persenjataan uang koin gopean, kami
siap melibas otak-otak Bu Ina dengan saus yang tidak tahu terbuat dari cabe
seperti apa. Kami pun juga menghajar es milik Pak Lala. Pesta kecil-kecilan pun
tak terhindarkan, dengan ratusan anak SMP yang terlihat menikmati makanannya.
A.S.I.A
adalah kepanjangan dari Arham, Sugi, Ilham dan Arifani. Jadilah A.S.I.A, geng
yang terkenal sebagai kumpulan homo. Walaupun kami semua tahu bahwa homo kami
hanyalah bercandaan belaka. Namun kelas kami tetap menganggap kami homo.
Bel sudah
berbunyi. Tugas Negara A.S.I.A telah selesai, memberantas kelaparan yang
melanda kami. Kini saatnya kami belajar lagi. Aku duduk di tempatku, berlawanan
dengan tempat duduknya, yaitu pojok kanan belakang bersama gengku. Aku merasa
nyaman duduk bersama mereka walaupun aku bukanlah tipe orang yang mudah
bergaul.
Kulihat
dirinya dari tempatku, namun aku langsung berpaling dengan wajah merah. sungguh
ku malu saat dia menyadari bahwa ku sedang menatapnya. “Oh Tuhan.. Apakah ini
yang namanya cinta??”. bergetar rasa di dada membuatku terlihat salah tingkah.
Ilham, Sugi, dan Arifani pun menertawaiku.
***
To be continued
Next Week ...

2 comments:
masih newbie, jadi kalo tulisannya kurang bagus harap dimaklumi..
Ternyata cowok bisa nge blushing juga yaa wkwk
Posting Komentar