1. 1. Siapakah Dirimu?
Hari
ini aku telah mendapatkan nomor hape Ara. Aku mendapatkannya saat Ara sudah
pulang. Adel lah yang memberikannya yang juga teman sekelasku. Saat itu ia
sedang berjalan untuk pulang ke rumah setelah berpisah dengan Ara, Afi, Rani
dan Tina di depan gerbang sekolah. Aku menghentikan gerakan langkahnya dengan
memanggilnya dari belakang.
“Adel…
Adeeel… Tunggu gue sebentar !!” teriakanku dari belakang.
Sreeett !! itulah bunyi rem sepedaku yang
berhenti di depannya. Adel tampak terkejut, terbukti dari kerutan dahinya dan
mulutnya yang agak menganga. Ditambah
lagi dengan pipinya yang super tembem
yang nambah mengembang karena aksi mulutnya itu.
“Kenapa manggil-manggil gue begitu amat sih? Kaget nih
gue. Ada apaan sih?” jawab Adel agak sewot.
“Del.. Lo punya nomornya Ara ga?” tanyaku,“Gue mau nanya
tugas nih.”
“Mau nanya tugas apa tugas nih?? Ciee… hahaha mintanya sampe begini amat”, nadanya meledekku.
“ Serius kok, hehe.. gue cuma mau nanya tugas”
“ Inget dil.. dia udah punya cowok, baru juga jadian.
Jadi gue harap jangan ganggu hubungannya. Nih nomornya…”
Adel pun menyebutkan nomor hapenya saat hatiku mulai terbakar
api cemburu karena ucapannya barusan. Walau begitu hatiku tetap senang mendapat
nomor hapenya.
Tiba di rumah, aku pun langsung bergegas membuka hapeku. Pandanganku
tertuju pada layar hapeku yang berbentuk persegi kecil. Aku mulai mencari menu
SMS dan mulai mengetik satu dua patah
kata. “Hi ra, nih gue Radil hehe, temen sekelas lu. Tau kan?”. Namun kuhapus
dan mulai mengetik lagi,” Selamat siang ra :) , Aku Radil, salam kenal ya”. Aku
bingung apa yang harus kukatakan.
10 menit berlalu. Seketika itu, aku urungkan niatku untuk
mengirimkan sms-ku. Lanjut ku menjalani aktivitasku sebagai kebanyakan pelajar biasa
yaitu terlelap dalam tidur siangku.
Aku adalah pelajar yang tidak mengikuti ekskul apapun di
sekolah, walaupun dulu aku pernah mengikuti Tae Kwon Do dan PMR. Alasan ku
tidak mengikutinya lagi adalah aku telah kehilangan semangat dan malu karena
perbuatan jahil kakak kelasku. Kejadian itu tidak pernah kulupakan waktu aku
masih di semester pertamaku di sekolah ini.
Aku masih ingat persis saat pelantikan Tae Kwon Do-ku. Teman-temanku
mengerjaiku saat aku tertidur. Aku dikerjai dengan posisi memegang sapu, dengan
badanku yang dihiasi pernak-pernik sampah bekas cemilan dan makanan yang dibawa
mereka. Jeng.. jeng .. Sekilas aku
terlihat seperti prajurit kaleng yang
memakai sampah sebagai armornya dan sapu sebagai senapannya.
Suatu ketika kak Rizal, kaka seniorku datang dan ikut
menjahiliku. Air aqua gelas adalah senjatanya untuk mengerjaiku. Ia menyiramkan
air itu ke celanaku sehingga terlihat bahwa aku sedang mengompol. Alhasil celanaku
basah dibagian yang tidak diinginkan dan membasahi karpet mushola sekolah kami.
Pada waktu itu, Mushola adalah camp kami untuk beristirahat.
Hari berganti hari dan datanglah hari Jum’at. Untuk
pertama kalinya, sekolahku tidak menggelar sholat jum’at seperti biasanya. Dan
baru kusadari semua itu adalah karena aku ! Mengapa? Karena guruku tahu rumor
bahwa aku mengompoli karpet masjid.
Aku pun malu setengah modar karena hampir seluruh siswa di
sekolahku tahu tentang ini. Akhirnya aku pun hanya sabar dan menahan kesal
penuh amarah atas tindakannya kepadaku.
Esok harinya, temanku memberitahuku bahwa semua siswa
yang mengikuti Tae Kwon Do diberi tugas membersihkan karpet mushola. Dan yang
membuatku tambah kesal, dia tidak hadir untuk membantu. Aku pun membersihkan
karpet tersebut dengan hati penuh kemarahan. Setelah selesai membereskan
semuanya, aku pun kehilangan semangatku dalam mengikuti ekstrakurikuler. Aku
keluar dari Tae Kwon Do tanpa memberi tahu siapapun.
***
Sore telah tiba, aku pun terbangun dan bersiap menuju Mazza.net,
warnet favoritku. Disitulah aku bisa mengekspresikan semua hal dalam hidupku.
Mulai dari cinta, kesenangan, benci, gundah dan perasaan lainnya. Aku selalu
melontarkan semuanya pada dunia maya.
Kubuka facebook-ku
dan mulai melihat daftar obrolan dengan mata yang tajam. Namun aku tidak
melihat namanya. Dengan sedikit kecewa, aku pun mampir ke profil miliknya untuk
melihat foto dan statusnya disini. Berjuta rasa di dada pun kurasakan karena
tak mampu menahan keanggunan fotonya. Tak pikir panjang, aku pun mulai men-download foto terbarunya dan
dimasukkan ke hapeku.
Aku selalu menyimpan fotonya di dalam hapeku. Memang
memori hapeku tidak cukup besar, hanyalah 256 MB. Namun aku rela mengorbankan
lagu-lagu dan hiburan lainnya dihapus demi fotonya. Bagiku fotonya adalah
hiburan terindah dalam menghiasi hari-hari yang kujalani. Jadi rata-rata semua isi
memoriku terpakai hanya untuk fotonya.
Aku pun menutup jendela dialog facebook dan mulai membuka salah satu permainan online. Aku mulai
melongok seperti tikus di permainan timezone
yang siap dipukul pakai palu untuk mendapatkan tiket hadiah.
“Cil.. Room berapa? Gue join dong,” sahutku kepada teman
seperwarnetanku.
“Room 19, buruan ! mau play nih.”
”Okay, sabar gue lagi mau log-in dulu,” sambil menekan tombol keyboard dengan keras.
Game online yang kumainkan adalah game yang menampilkan
avatar/character yang sedang joget menggunakan
lagu-lagu dalam ataupun luar negri. Tombol yang digunakan adalah keyboard arah
dan spasi/ctrl sebagai tombol utamanya.
Cara bermainnya adalah dengan menekan tombol arah pada keyboard mengikuti arah yang ada pada gambar
dan diakhiri spasi/ctrl pada saat ketukan yang tepat. Ketukan yang ada di
ayodance berkisar 80 - 180 bpm (bit per minute) dan bahkan ada yang 190 bpm.
Semakin tinggi bpm nya semakin susah kita mengikuti
pergerakannya begitu pula semakin ganas orang tersebut memainkannya.
Game ini juga termasuk salah satu games online yang
banyak menyebabkan keyboard sebagai
korbannya. Karena pada saat bermain/battle,
kalian pasti mendengar suara ledakan hebat dari tekanan yang diberikan
kepada keyboard. Hal inilah yang
mungkin membuat keyboard yang ada di
warnet banyak yang mengalami kerusakan/jebol.
Jadi, wajar saja perangkat-perangkat di warnet banyak yang rusak bahkan hancur.
Permainan pun dimulai, dengan wajah serius gregetan, aku mulai melontarkan semua
emosiku. Dar… Der… Dorr… Ptakkkk..!!
aku berhasil mendapatkan poin perfect 3x. Dengan sedikit senang mendapatkan 3x
perfect aku pun lengah. Lalu ku gebrukan keyboardku
karena aku mendapatkan miss.
Di tengah perjuanganku berlangsung, tiba-tiba sosok yang
tidak dikenalpun muncul. Seorang perempuan yang berjalan melewati lorong tempat
dudukku. Seketika itu pun fokusku mulai pecah saat memandanginya.
Kulihat Dirinya duduk di bilik nomor 5. Sayangnya bilik
itu tertutup jika dilihat dari tempatku. Hal itu membuatku mulai penasaran
dengannya.
“Dil.. Main yang bener, kita kalah sekor tuh.” Sahut Bocil.
“Sabar, nanti gue balap, tenang aje.” Sambil kembali
duduk dan mulai bermain lagi.
Permainan terus berlangsung, aku terus menunjukkan
ketangkasanku bermain walaupun skillku hanyalah pas-pasan. aku berharap bisa mencuri perhatiannya dan dapat melihat
wajahnya sebentar.
Namun tak terjadi apa-apa. Dia terus memandangi PCnya
dengan serius. “Gimana yaa? Caranya agar aku bisa merebut perhatiannya? Tuh
cewe kaya sering gue liat, tapi dimana ya?” Suaraku dalam hati.
Penasaranku pun memuncak! Aku pun mulai bangkit menuju
tempat temanku dengan pandangan yang agak mencuri-curi ke biliknya.
“Bert.. Cil.. lo kenal sama cewek yang di sana
ga?” Suara ku agak berbisik di dekat bilik mereka sambil menunjuk ke arah bilik
nomor 5. Albert pun memandangi dirinya sejenak sambil berpura-pura menguap
berdiri.
“Yang anak kecil itu? Itu mah adek gue,” jawab Albert.
Aku pun membalas dengan nada serius.
”Itu mah gue udah tau. Bercanda aje lu ah. yang
sebelahnya itu lho.. yang di bilik nomor 5 bukan nomor 6.” Albert pun terdiam
dan menyipitkan matanya yang sudah sipit dari awal. Albert adalah teman
seperwarnetanku yang mungkin keturunan orang china. Jadi wajar saja jika dia
itu putih dan sipit mirip engkoh-engkoh glodok.
“Oh itu dil, dia mah
emang sering main disini, dia main game itu juga loh ! *sambil menunjukkan gigi
tonggosnya*. Dia agak pendiam kayanya”, sahut Bocil yang sok tahu memecahkan konsentrasi sipit si Albert.
Bocil juga teman seperwarnetanku yang memiliki badan
mungil dan gigi yang agak maju ke depan. Ya bisa dibilang dia adalah Alvin di
film Alvin and The Chipmunk versi manusia, Jangan membuatnya tertawa, atau kita
akan merasakan serangan badai dari mulutnya yang dapat menghancurkan telinga
karena suara cempreng miliknya.
“Lu tau namanya ga
cil? Penasaran nih gue,” tanyaku dengan wajah sedikit memaksa. Bocil pun
berdiri dan langsung menghampirinya dengan modus
menghampiri Lala, Adik dari Albert.
“Lala? Lagi main di room mana nih? Boleh kali gue join,”
kata Bocil sambil mencolek bahunya.
“Pengen tau banget sih? Hahaha.. lagi di room 99 nih,
join aja…..” Saat Lala terus berbicara, Bocil memperhatikan PC milik wanita
misterius tersebut.
“Oh gitu, okeh tunggu ya.” Sambil beranjak menuju ke
tempatku.
Sepertinya Bocil sudah mendapatkan informasi tentangnya.
Terlihat dari wajahnya yang meniru tokoh Bug’s Bunny yang agak meledek.
“Tadi gue liat sih dari nama charnya, Pasadina,” dengan nada tidak yakin,” kenapa sih
keliatannya pengen tau banget tentang dia?”
Aku pun terdiam sejenak dan berfikir alasan apa yang
harus kukeluarkan agar aku tidak terlihat tertarik padanya.
“Oh dia itu… emh.. temen SMP gue kayaknya deh. Yang
disukain si kumis, temen sekelas gue pas kelas 8, gue kaya pernah liat dia,
tapi dimana gitu?” Jawabku sambil melihat ke langit-langit warnet memikirkan
kata-kata yang pas.
”Oh, kirain…...?? haha”, sahut Albert meledekku.
“Kirain apaan? Demen? Ga mungkinlah, hati gue masih buat
temen sekelas gue hihi,” jelasku.
Pasadina? Aku pun terus bertanya-tanya dalam hatiku. Mungkinkah
dia benar Pasadina yang disukai oleh si Kumis? Memang sih wajahnya terlihat
tidak asing. Mungkin karena itu aku ingin tahu tentangnya bukan karena aku
punya rasa dengannya. emang rumahnya
dia dimana? Kok bisa main di warnet ini?”.
Kududuk kembali ke tempatku sambil mem-browsing tentang dirinya di facebookku.
“Pa..sa..di..na..” Sambil mengetik namanya. “Hmm Disini
ada yang namanya Pasadina Cute Abiez, Pasadina Gusta Puwula, dan Pasadina
lainnya. Tapi yang paling banyak mutual
friendnya sih ini. Coba deh !”
Dan yang kuduga itu benar! Dia satu sekolah denganku.
Nama lengkapnya adalah Pasadina Gusta Puwula. Dia adalah teman sekelas dari
teman SD ku, yaitu Wati. Terlihat dari foto bersamanya.
Setelah
penasaranku hilang, aku pun mulai tidak menghiraukannya lagi dan melanjutkan
permainanku.
***

0 comments:
Posting Komentar