Ketika langit menampakkan keindahannya. Tak ada satupun yang
tidak bisa memandangnya. Walaupun sang buta tidak bisa melihat. Tetapi perasaanlah
yang membawanya.
Manusia lahir dengan hati. Yang biasa disakiti. Oleh keadaan
yang membuatnya mati. Seakan tertancap tajamnya peniti. Kecil yang mencabik
semua mimpi.
Kelemahan hati bisa menjadi tanda. Tanda bahwa hal kecil
menjadi besar. Yang mudah menjadi susah. Dalam alasan bayang-bayang masalah.
Bukankah kita adalah kesempurnaan? Yang selalu menampakan
kehebatan. Yang sering dihinggapi kesombongan. Hingga jatuh ke dalam jurang.
Sakit, letih, dan pedih. Sedih ini seakan mendidih. Menerawang
ke dalam gua di hati. Hingga terbesit bahwa kematian adalah jalan terakhir.
Orang-orang berlalu lalang menampakkan keasliannya. Yang dahulu
baik menjadi tengik. Yang jahat semakin sangat. Yang lain pun berjalan pergi.
Inilah singa yang teramputasi, terjebak dalam dunia fantasi. Terlambat
menyadari bahwa dunia hanyalah seni. Yang hanya sesaat dinikmati.
Kini aku telah sadar. Bahwa semuanya hanyalah sementara. Tak
ada yang dibawa selain perkara. Yang akan diperhitungkan dalam acara.
Terimakasih semua, ini belum berakhir. aku akan mulai lagi
dengan-Nya
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact