Hari ini adalah hari pertama gue
di Jayapura, Papua. gue tiba disini dengan pesawat “Singa Udara JT 0794” dari
bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kesan gue pertama kali naik pesawat adalah
yang pertama, gue ga bisa tidur dengan tenang bukan karena takut pesawatnya
jatuh, tetapi karena tempat duduk yang menurut gue kurang nyaman. Yah maklum
saja, gue biasa tidur dengan posisi tengkurep,
jadi agak terkesan norak sedikit. Yang kedua adalah gue takut saat
pesawat akan melakukan take-off. Pesawat gue lari dengan kencangnya seperti gepeng yang sedang dikejar oleh bapak kantip. Apalagi saat pesawat hendak
landing, gue takut roda dari pesawat patah dan terlempar lalu pesawat
terguling-guling seperti celeng bermain
lumpur, dan Indonesia akan merilis film “Final Destination ke-99”
. Yang ketiga, gue menderita karena karena pada saat di pesawat, gue kira gue akan mendapat makanan disana. eh ternyata, gue ga dapet makan disana. Yang keempat itu gue sangat salut dan agak sedikit ingin tertawa. Mengapa? Karena saat pramugari mempraktikan prosedur keamanan, mereka bergerak seperti robot. Lalu cara mereka menjelaskan juga seperti orang Madura yang pandai bicara yang memiliki kecepatan berbicara 1000 kata/menit. Sampai-sampai penumpang lain (orang papua) hanya bengong melihatnya. Yang kelima, gue sangat senang saat ada di udara karena pemandangannya indah, walaupun gue duduk di tengah dan harus melongok-longok ke jendela untuk melihat semuanya. Pada saat gue ada di awan rasanya itu seperti naik angkot metal yang sedang melaju kencang di jalanan off-road Jakarta (jalan berlubang) tetapi gelap karena dipenuhi kabut awan. Oleh karena itu, pesawat goyang karawang seperti pesawat kami sedang ditangkap dan dimainkan oleh “Raja Monyet” pada filmnya. Itulah kesanku naik pesawat pertama kal, Apa kesanmu?.
. Yang ketiga, gue menderita karena karena pada saat di pesawat, gue kira gue akan mendapat makanan disana. eh ternyata, gue ga dapet makan disana. Yang keempat itu gue sangat salut dan agak sedikit ingin tertawa. Mengapa? Karena saat pramugari mempraktikan prosedur keamanan, mereka bergerak seperti robot. Lalu cara mereka menjelaskan juga seperti orang Madura yang pandai bicara yang memiliki kecepatan berbicara 1000 kata/menit. Sampai-sampai penumpang lain (orang papua) hanya bengong melihatnya. Yang kelima, gue sangat senang saat ada di udara karena pemandangannya indah, walaupun gue duduk di tengah dan harus melongok-longok ke jendela untuk melihat semuanya. Pada saat gue ada di awan rasanya itu seperti naik angkot metal yang sedang melaju kencang di jalanan off-road Jakarta (jalan berlubang) tetapi gelap karena dipenuhi kabut awan. Oleh karena itu, pesawat goyang karawang seperti pesawat kami sedang ditangkap dan dimainkan oleh “Raja Monyet” pada filmnya. Itulah kesanku naik pesawat pertama kal, Apa kesanmu?.
Sampai
di papua gue dijemput oleh Bapak Risman. Beliau adalah “Juru Kemudi PT WIKA”.
Beliau ramah sekali jika kita memulai pembicaraan dengannya pun ramah. Pada
saat gue tiba di papua, gue dan beliau masih menunggu bapak Pelaksana Utama
dari Proyek Oksibil(Nama Daerah di Papua) bernama Bapak Dika. Saat pertama gue
berfikir bahwa bapak Dika itu sudah tua. Ternyata umur beliau hanya kisaran 27
keatas. Setelah kami bertemu dengan beliau, kami mampir di “Café Fiesta”, café
yang ada bandara Jayapura. Kami hendak melepas lapar dan dahaga. Setelah
selesai, bapak Dika pamit karena beliau akan terbang lagi ke oksibil. Lalu kami
pun bergegas ke kantor cabang PT WIKA. Perjalanan kami sekitar 1 jam kurang
dari bandara karena kantornya berada di Abepura.
Kantor
PT Wika di daerah Papua ini masih kecil, dan bangunannya pun masih sewa.
Bangunannya memiliki panjang x lebar berkisar 6m x 26m dan mempunyai 2 lantai atap
bangunan. Bangunan ini dilengkapi 2 Toilet, dan 1 Mushola di lantai 2.
Hari
Pertama gue di Papua hanya duduk santai dan berbincang-bincang dengan Bapak
Agung (Keuangan), Bapak Aviv (Pengadaan), dan Bapak Arif Budianto (Pemasaran).
Setelah itu gue mendapat tugas pertama untuk membuat layout kantor yang sudah
direvisi. Gue kerjakanlah tugas pertama kali gue ini dengan senang hati sampai
saatnya kantor tutup. Kantor kami tutup paling cepat jam 6 sore jikalau tidak
ada pekerjaan yang dikerjakan overtime,
dan paling lama jam 8 – 9 malam. Malam Tiba, pulanglah gue ke Mess yang berada +
10 km dari kantor. Rumah Messnya berada seperti di dalam kompleks namun
sederhana. Gue pulang dengan wajah lesu-lunglai dan bertemu ibu suratmi / ibu
masak (panggilan sayang Pak Agung). Gue tidur sekamar dengan Pak Agung di kamar
depan. Kamar kami berukuran 3 x 3 m2 dilengkapi AC Sharp, stop
kontak 5 colokan, kasur busa terkapar
di lantai 2 x 2 m2 dengan tebal + 10cm dan gantungan baju di
belakang pintu. Tidurlah gue untuk menutup hari yang amazing ini.

0 comments:
Posting Komentar